Sunday, 4 August 2013

Yang saya tahu, sholat Tarawih adalah sholat malam yang berhukum sunnah yang hanya dilakukan di bulan Ramadan. Bisa dilakukan berjama’ah maupun munfarid. Saya sering menghilangkan huruf a paling awal untuk menyebut Tarawih. Dan teman-teman saya selalu mengadakan debat yang tak penting untuk didengar dengan topik ‘The right way to say Tarawih. Traweh or Tarweh?’. Nah, tulisan pertama saya di blog ini bukan mau membahas tentang perdebatan tidak penting itu, saya ingin berbagi pengalaman ngicip sholat tarawih di Masjid Agung Tuban.

Sekilas tentang Masjid Agung Tuban, masjid ini merupakan masjid terbesar se-Kabupaten Tuban. 
Itulah sekilas yang benar-benar sekilas tentang masjid ini. 
Selama 3 tahun plus plus aktif di Tuban, baru kali ini saya merasakan sensasi menunaikan sholat Tarawih di Masjid Agung. Tahun lalu, saya sempat melingkari kalender untuk jadwal Tarawih di Masjid Agung, karena waktu itu saya mendapat cerita menarik dari teman tentang sistem sholat Tarawih di masjid ini. Pada akhirnya sangat disayangkan sekali, karena penyakit kambuh lagi *If you know what I mean*. Tapi untuk kali ini, Alhamdulillah, penyakitnya lagi bobo mungkin dan mbak +DIAN Rustya berikut adiknya +fadli ryuzaki dengan senang hati bersedia menerima ajakan saya.

Masjid Agung Tuban memulai sholat Isya’ pukul 18.53, itu yang muncul di layar handphone saya. Sebelum itu, saya ingatkan buat kamu yang mau ngicip juga, kalau bawa motor jangan lupa bawa uang sedikitnya 1000 perak, buat bayar parkir. Pengalaman ngutang sama si bapak Jukirnya itu memalukan. Masjid ini ‘melayani’ 20 rakaat Tarawih serta 3 untuk Witir. Perlu diketahui, masjid ini memiliki AC yang modelnya berdiri ditambah kipas angin yang disetel didepannya. Jadi jika kamu merasa kuat, hadapilah 20 raakat itu dengan posisi sholat tepat disamping kipas angin seperti saya dan Afad waktu itu. Gara-gara salah ambil posisi, saya selalu berharap ada uap hangat yang menyembur dari balik karpet. Sayangnya itu tak mungkin terjadi. Baru Takbiratul Ihram saja dinginnya sudah kaya masuk freezer.

Berdiri selama 3-4 menit hanya untuk 1 rakaat dengan AC yang setia menemani, rasanya itu MasyaAllah.

Eh, tapi kok lama banget ya? 

Iya, karena yang dibaca bukan surah-surah pendek seperti kebanyakan masjid atau mushola lain, tapi 1 malam shalat Tarawih setidaknya bisa menghabiskan 1 juz. Dan itu berlangsung mulai malam pertama sampai malam terakhir Tarawih. Jadi, kalau kita 1 bulan full sholat Tarawih disana, khatam deh kitanya.

Sebelumnya, saya dan Afad sudah buat kesepakatan, “8 rakaat saja cukup kok, tapi kalau kuat ya boleh saja diterusin”, itu kata saya. Apanya yang diterusin, belum sampe 8 rakaat, kaki sudah keyok duluan. Dirakaat ke-8 bendera putih berkibar, kita mundur dari barisan jamaah dan keluar menuju teras masjid untuk menormakan aliran darah yang mampet di kaki alias selonjoran.
Terus, mbak Dian-nya dimana? Oh, kelihatannya dia belum tampak ingin mengibarkan bendera putih, jadilah kita menunggu.

Sekitar jam 20.10, masjid Agung menyudahi Tarawih untuk hari itu. Untuk selanjutnya, kita kluyuran deh.

Ya, begitulah kira-kira gambaran yang saya dapat dari icip-icip kemarin. 
Ada yang mau ngicip juga?

Posted on Sunday, August 04, 2013 by Hiro Hiroki

5 comments

Sunday, 30 June 2013

Pernah mendengar “Atraksi Jaran Jenggo” sebelumnya? Atraksi Jaran Jenggo cukup familiar di daerah pesisir utara Jawa (Timur) seperti di daerah Gresik, Lamongan, dan Tuban.
Jaran adalah Bahasa Jawa dari Kuda, nah kalau Jenggo saya kurang paham artinya. Jaran Jenggo adalah kuda yang bisa beratraksi mengikuti instruksi pawang, diantaranya menari, berputar ditempat, dan juga tidur di “altar”. Si Kuda mengenakan aksesoris di sekujur tubuhnya layaknya penari yang akan menari. Jaran Jenggo ini biasa ditampilkan pada acara khitanan, disini biasanya disebut Penganten Sunat. Anak laki-laki yang dikhitan mengenakan baju layaknya pengantin Jawa dan didudukkan di punggung si Jaran Jenggo kemudian diarak keliling kampung diiringi musik pengiring si Jaran Jenggo menari. Sepanjang diarak keliling kampung, di Jaran Jenggo dan pawangnya selalu menari mengikuti musik.
Seperti sore itu, kampung kami dihebohkan oleh kehadiran Jaran Jenggo. Refleks saya mengambil kamera. Ternyata warga kampung sudah berdiri di jalan utama kampung kami, menunggu di Jaran Jenggo beraksi.
Sebelum di Jaran Jenggo beraksi, salah satu pawang membukanya dengan atraksi tari-tarian. Bapak pawang ini tidak kalah gemulainya dengan penari wanita ;) 
Ketika bapak pawang sedang menari, Jaran Jenggo dan Rombongan menjemput si Penganten Sunat yang sudah bersiap di rumahnya untuk kemudian dikawal menuju titik awal pemberangkatan.  
Sebelum diarak keliling kampung, si Jaran Jenggo dan penganten sunatnya berjalan memutar ditempat. Mungkin ini bagian dari prosesi/atraksi/tradisi.
Kemudian Jaran jenggo pun mulai di arak keliling kampung, dipandu oleh 5-6 pawang yang berjalan di sekitar si Jaran Jenggo.
Berdasarkan informasi yang kami dapat dari salah satu Pawang, rute arak-arakan yaitu : kampung kami – ratan cino – jl. Ronggolawe – Makam Sunan Bonang (saya baru tahu kalau pakai acara ziarah ke makam Mbah Mbonang) – Jl. Pemuda – masuk kampung lagi. Dan di sepanjang jalan, arak-arakan tersebut tidak berhenti menari. Anak-anak di kampung kami pun tidak akalah hebohnya dan sangat bersemangat mengikuti arak-arakan dari berangkat sampai kembali lagi ke kampung.
Ternyata acara belum selesai, masih ada atraksi lanjutan lagi. Pada bagian akhir, si Jaran Jenggo disuruh tidur diatas “altar” yang telah dsiapkan oleh pawang. Jaran Jenggo pun menurut *penonton takjub*. Setelah itu seluruh pawang menari mengelilingi si Jaran Jenggo yang sedang tertidur. Mendadak 3 orang pawang kesurupan. Ya sebenarnya ini memang disengaja karena bagian dari atraksi, tetapi mereka benar-benar kesurupan. Penonton pun mematung ditempat, menonton sambil was-was tetapi juga penasaran. Si kecil Raya yang menonton bareng simbah pun sampai berkeringat dingin. Antara takut dan penasaran, dia kekeh minta berdiri di barisan paling depan. Lihat adek kecil nyempil diantara penonton? ya, itu si Raya hehehhhee
Berikut ini adalah beberapa foto tarian para Pawang dan Jaran Jenggo …
Walaupun merupakan bagian dari kebudayaan daerah, tetapi Jaran Jenggo ini jarang beratraksi. Selain karena memang diadakan pada acara tertentu, biaya pengadaan Atraksi Jaran Jenggo juga tidak murah, tapi sepadan sih dengan atraksi yang ditampilkan. Tidak heran, kehadirannya selalu berhasil memancing perhatian dari kami semua :D

Posted on Sunday, June 30, 2013 by DIAN Rustya

2 comments

Tuesday, 25 June 2013


Pantai Boom ...
Ya, siapa warga Tuban yang tidak kenal dengan Panta Boom. Pantai yang terletak berdekatan dengan alun - alun kota Tuban dan menjadi salah satu tujuan jalan - jalan warga Tuban dan pendatang.
Namun, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pantai ini pernah menyimpan sejarah besar sejak keberadaannya ratusan tahun lalu.

Pantai Boom merupakan pelabuhan kuno yang berdiri sejak jaman Kerajaan Majapahit. Cerita/riwayat Pantai Boom ini dapat dilihat pada relief serta papan cerita yang terdapat di sekitar pintu masuk.

Bagi yang pernah membaca buku Pramoedya Anantha Toer yang berjudul ARUS BALIK, mungkin akan bisa membayangkan dengan baik kondisi pantai ini ratusan tahun lalu. Dahulu, Pantai Boom merupakan pelabuhan yang dikepalai oleh seorang syahbandar. Ada banyak kapal pedagang dari berbagai negara seperti Tiongkok, Arab, maupun India yang berlabuh disini.

Waktu berlalu dan jaman pun berubah. Pantai yang dulunya merupakan pelabuhan besar, sekarang tidak lagi menyisakan bukti kejayaan masa lalunya. Pelabuhan ini sudah berubah fungsi menjadi tempat memancing dan bermain yang selalu ramai saat pagi dan sore hari, khususnya hari libur.

Mengunjungi tempat - tempat bersejarah akan terasa berbeda ketika kita lebih dahulu mengenal tempat dan sejarahnya. Termasuk ketika mengunjungi Pantai Boom ini. Setelah membaca ARUS BALIK - Pramoedya Anantha Toer, Pantai Boom ini tidak lagi sama di mata saya. Pantai Boom terlihat lebih istimewa daripada pantai - pantai lain yang ada di sepanjang garis pantai Tuban.

Yuk mengenal Pantai Boom lebih dekat ...






Posted on Tuesday, June 25, 2013 by DIAN Rustya

1 comment